0

Saya terbelalak ketika membaca sebuah tulisan seorang tentang pakaian muslimah disini. Sebuah tutur bahasa yang lugas, menyengat namun jujur mengkritik bagaimana masyarakat kita sudah terjerumus pada pemahaman yang keliru mengenai keterharusan berbusana, terutama bagi kaum wanita. Hal ini semakin terasa tajam ketika tayangan televisi kini sering menyajikan sosok religius-religius baru dalam wajah para artis dan publik figur yang tidak pernah lepas menggunakan busana muslim. Kritik itu menjadi begitu pedas - namun enak dikecap - ketika banyak orang menjadi muslim yang sifatnya musiman. Ya, lebaran memang sudah di depan mata.

Dengan tajam penulis menyamakan kita dengan ikan sarden yang terbungkuskan kaleng :

Entah mengapa, seseorang yang "muslim" dan seseorang yang "muslimah" harus diserupakan dengan ikan sarden! Ia harus dibungkus oleh kaleng resmi produk sendiri.

Bagi penulis, menempelkan istilah muslim pada jenis pakaian ini dan itu merupakan hal yang amat berlebihan. Karena Islam tidak bukanlah pondok pesantren dan partai politik. Setiap umat diberi kebebasan dalam memilih jenis pakaiannya masing-masing, asal tidak memamerkan aurat, tidak bersifat transparan sehingga tampak bagian dalamnya dan tidak membalut ketat sehingga menampilkan lekuk tubuh.

Nampak jelas, penulis ingin mengkritik pada praktek beragama, yang kemudian makin diperparah ketika dieksploitasi oleh kalangan pebisnis dan dunia entertainment. Ya "orang-orang" kuat tersebut memang pintar menciptakan budaya-budaya baru, trend dan paradigma baru yang sejatinya tidak ada dalam keagamaan, namun sarat dengan kepentingan pribadi

Dikirim pada 12 Agustus 2011 di Uncategories

Masih terjadi kontoversi mengenai hukum Aqiqah yang sebenarnya diantara beberapa pendapat para ulama. Sebagian berpendapat bahwa hukumnya wajib namun sebagian mengatakan hukum sunnah. Bahkan Madzhab Hanafiah mengatakan tidak wajib dan tidak pula sunnah, hukumnya mubah. Hukum aqiqah menurut pendapat yang paling kuat adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), dan ini adalah pendapat Jumhur Ulama dan pelaksanaannya paling utama adalah hari ketujuh dari hari kelahirannya.

Aqiqah atau akikah secara syari’at memiliki makna sebagai hewan yang disembelih untuk menebus bayi yang dilahirkan. Sebagai hal yang di syariatkan oleh Allah SWT., tentu membawa hikmah dan manfaat bagi yang melaksanakannya. Menjadi sangat dianjurkan terutama bagi keluarga yang mampu, sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang ingin menyembelih (hewan ‘aqiqah) untuk anaknya maka lakukanlah, dan barang siapa yang tidak ingin (tidak mampu) maka tinggalkanlah.” (HR. Abu Dawud).

Mengenai jumlah kambing yang diaqiqahkan bergantung pada jenis kelamin bayi seperti yang telah dianjurkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam :

“Bagi anak laki-laki disembelihkan dua ekor kambing dan bagi anak perempuan disembelihkan satu ekor. Dan tidak akan membahayakan kamu sekalian, apakah (sembelihan itu) jantan atau betina.”

Hikmah beraqiqah sendiri adalah sebagai Pengungkapan rasa gembira demi tegaknya Islam dan keluarnya keturunan yang di kemudian hari akan memperbanyak umat Nabi Muhammad SAW Memperkuat tali silahturahmi di antara anggota masyarakat dalam menyambut kedatangan anak yang baru lahir. Sumber jaminan sosial dan menghapus kemiskinan di masyarakat Melepaskan bayi dari godaan setan dalam urusan dunia dan akhirat.

Sedangkan Manfaatnya adalah sebagai berikut :

Merupakan kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang ditujukan (pahalanya) untuk bayi yang baru lahir ke alam dunia.
Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Allah lebih terlindung dari gangguan syaithan yang sering mengganggu anak-anak. Hal inilah yang dimaksud oleh Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai oleh aqiqahnya”.
Merupakan tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak pada hari perhitungan.
Aqiqah sebagai sarana menampakkan rasa gembira dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang akan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.
Akikah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) di antara masyarakat.

Dikirim pada 11 Agustus 2011 di Uncategories
Awal « 1 » Akhir


connect with ABATASA