0
Dikirim pada 24 Juli 2011 di Uncategories

Keponakanku benar-benar "jagoan". Siapa yang tidak pernah kena kemplang kepalanya? Seisi rumah - bahkan tamu yang singgah barang 2 jam saja - pernah jadi korban kekerasaannya. Padahal usianya belum genap 3 tahun. Kok bisa ia menjadi begitu ringan tangan? Kok begitu mudahnya ia melempar barang ini itu sesukanya? Saya tidak hendak menyalahkan siapa-siapa. Tapi memang secara kebiasaan, memukul di rumah itu sudah menjadi habbit yang tidak disadari dampak negatifnya terhadap perkembangan anak.  Yang lebih parah lagi : ponakan saya tersebut memang terus disajikan berbagai bentuk "kekerasaan" yang terbungkus dalam bentuk mainan dan game.

Ya, ayahnya yang masih muda senangnya main game Counter Strike di rumah. Si anak jadi ikut lihat-lihat hingga mulai belajar memencet mouse untuk ikut menghujamkan peluru. Darah muncrat di layar komputer jadi santapannya tiap hari. Kemenangan dan berhasilnya membunuh lawan ditandai dengan tawa bersama-sama. Menyakiti adalah sebuah game! Sebuah kesenangan.

Ditambah makin parah karena ia sering diberi kado berupa pistol-pistolan. Dari yang sekedar tanpa suara hingga yang bunyi meletup seperti beneran. Si Ayah senang-senang saja karena buah hatinya bahagia dengan mainan barunya. Bahkan kejadian memberikan kado berupa mainan keras lain - walau tidak ulang tahun - menjadi kesenangan yang membawa kebahagiaan karena melihat anaknya ceria.

Padahal, dari sinilah si ponakanku ini belajar tentang kekerasan.  Repotnya, seluruh isi keluarga merasa kebingungan : Kok bisa ya anak ini jadi kasar? Siapa sih yang ngajarin? Wah pasti keikut nakalnya si ini dan itu (Sembari menunjuk nama-nama anak tetangga)



Dikirim pada 24 Juli 2011 di Uncategories
comments powered by Disqus


connect with ABATASA