0
Dikirim pada 12 Agustus 2011 di Uncategories

Saya terbelalak ketika membaca sebuah tulisan seorang tentang pakaian muslimah disini. Sebuah tutur bahasa yang lugas, menyengat namun jujur mengkritik bagaimana masyarakat kita sudah terjerumus pada pemahaman yang keliru mengenai keterharusan berbusana, terutama bagi kaum wanita. Hal ini semakin terasa tajam ketika tayangan televisi kini sering menyajikan sosok religius-religius baru dalam wajah para artis dan publik figur yang tidak pernah lepas menggunakan busana muslim. Kritik itu menjadi begitu pedas - namun enak dikecap - ketika banyak orang menjadi muslim yang sifatnya musiman. Ya, lebaran memang sudah di depan mata.

Dengan tajam penulis menyamakan kita dengan ikan sarden yang terbungkuskan kaleng : 

Entah mengapa, seseorang yang "muslim" dan seseorang yang "muslimah" harus diserupakan dengan ikan sarden! Ia harus dibungkus oleh kaleng resmi produk sendiri.

Bagi penulis, menempelkan istilah muslim pada jenis pakaian ini dan itu merupakan hal yang amat berlebihan. Karena Islam tidak bukanlah pondok pesantren dan partai politik. Setiap umat diberi kebebasan dalam memilih jenis pakaiannya masing-masing, asal tidak memamerkan aurat, tidak bersifat transparan sehingga tampak bagian dalamnya dan tidak membalut ketat sehingga menampilkan lekuk tubuh.

Nampak jelas, penulis ingin mengkritik pada praktek beragama, yang kemudian makin diperparah ketika dieksploitasi oleh kalangan pebisnis dan dunia entertainment. Ya "orang-orang" kuat tersebut memang pintar menciptakan budaya-budaya baru, trend dan paradigma baru yang sejatinya tidak ada dalam keagamaan, namun sarat dengan kepentingan pribadi



Dikirim pada 12 Agustus 2011 di Uncategories
comments powered by Disqus


connect with ABATASA